Beberapa waktu yang lalu kita dihebohkan oleh pernyataan seorang wanita yang menyebut capres Prabowo adalah titisan tuhan, namun beberapa saat kemudian ucapannya diklarifikasi bahwa sebenarnya dia ingin bilang bahwa Prabowo itu titipan tuhan,bukan titisan tuhan.
Menariknya segala ucapan dan tindakan pendukung capres itu selalu jadi bahan obrolan yang gayeng,penuh canda tawa dan seolah kita itu mesin produksi canda tawa yang tiada henti dalam memproduksi, tidak hanya dalam satu capres saja, namun semua orang yang show up di muka umum selalu jadi bahan candaan, ada pameo yang sering kita dengar bahwa iri tanda tak mampu,
caci maki atau bullly sering jadi senjata dalam berkompetisi, sungguh orang yang pandai membully saya pikir mereka adalah orang - orang yang jenius, ribuan kata-kata baru mereka buat,ini karunia tuhan yang sangat berharga saya rasa.
Kembali ke keseleo lidahnya srikandi gerindra yang mengatakan prabowo adalah titipan tuhan, sungguh titipan tuhan itu tidak hanya berwujud satu orang saja, namun segala apa yang ada di jagad ini adalah titipan tuhan, segala hal yang dititipkan adalah sebuah amanah yang harus dijaga, jika prabowo adalah titipan tuhan, maka konsekwensi dari ucapan itu adalah kita harus menjaganya, bagaimana cara kita menjaga pemimpin yang dititipkan tuhan? Saya tak tahu jawabannya, yang saya tahu bahwa pimpinan itu adalah utusan, dimana dia akan menjadi solving maker pada yang dipimpin, dia tahu apa dan bagaimana pemecahan masalah dari yang dipimpin.
Sistem pemilihan yang demokratis mewadahi pemilihan pemimpin yang kompeten, cakap dan cerdas, hingga seorang pemimpin dapat terpilih dan pemilih merasa diringankan beban yang dia miliki, pemimpin sejatinya adalah seorang pelayan, dimana dia menyiapkan tenaga dan pikirannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi rakyatnya, pemimpin akan sedikit memikirkan kepentingan dirinya, apa yang menjadi kepentingannya adalah segala hal kepentingan rakyatnya, bahkan wilayah privatnya pun menjadi semakin sempit.
Inilah yang harus kita fahami bahwa kita akan kesulitan jika kita memiliki pemimpin yang merupakan titipan, kita yang seharusnya dilayani menjadi yang harus melayani, kita yang harusnya dijaga menjadi yang menjaga, ini konsekwensi jika kita menerima hal titipan, beda cerita jika kita mempunyai pimpinan yang merupakan utusan, pimpinan kita tentunya pemimpin yang kompeten dan yang pasti akan melayani kita. Semoga!!
Menariknya segala ucapan dan tindakan pendukung capres itu selalu jadi bahan obrolan yang gayeng,penuh canda tawa dan seolah kita itu mesin produksi canda tawa yang tiada henti dalam memproduksi, tidak hanya dalam satu capres saja, namun semua orang yang show up di muka umum selalu jadi bahan candaan, ada pameo yang sering kita dengar bahwa iri tanda tak mampu,
caci maki atau bullly sering jadi senjata dalam berkompetisi, sungguh orang yang pandai membully saya pikir mereka adalah orang - orang yang jenius, ribuan kata-kata baru mereka buat,ini karunia tuhan yang sangat berharga saya rasa.
Kembali ke keseleo lidahnya srikandi gerindra yang mengatakan prabowo adalah titipan tuhan, sungguh titipan tuhan itu tidak hanya berwujud satu orang saja, namun segala apa yang ada di jagad ini adalah titipan tuhan, segala hal yang dititipkan adalah sebuah amanah yang harus dijaga, jika prabowo adalah titipan tuhan, maka konsekwensi dari ucapan itu adalah kita harus menjaganya, bagaimana cara kita menjaga pemimpin yang dititipkan tuhan? Saya tak tahu jawabannya, yang saya tahu bahwa pimpinan itu adalah utusan, dimana dia akan menjadi solving maker pada yang dipimpin, dia tahu apa dan bagaimana pemecahan masalah dari yang dipimpin.
Sistem pemilihan yang demokratis mewadahi pemilihan pemimpin yang kompeten, cakap dan cerdas, hingga seorang pemimpin dapat terpilih dan pemilih merasa diringankan beban yang dia miliki, pemimpin sejatinya adalah seorang pelayan, dimana dia menyiapkan tenaga dan pikirannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi rakyatnya, pemimpin akan sedikit memikirkan kepentingan dirinya, apa yang menjadi kepentingannya adalah segala hal kepentingan rakyatnya, bahkan wilayah privatnya pun menjadi semakin sempit.
Inilah yang harus kita fahami bahwa kita akan kesulitan jika kita memiliki pemimpin yang merupakan titipan, kita yang seharusnya dilayani menjadi yang harus melayani, kita yang harusnya dijaga menjadi yang menjaga, ini konsekwensi jika kita menerima hal titipan, beda cerita jika kita mempunyai pimpinan yang merupakan utusan, pimpinan kita tentunya pemimpin yang kompeten dan yang pasti akan melayani kita. Semoga!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar