Translate

Jumat, 05 Juni 2015

Bang Iwan Fals sang bapak reformasi KA


Kereta Api merupakan moda transportasi massal yang sering menjadi pilihan masyarakat. Pilihan menumpang kereta api menjadi sangat favorit khususnya untuk masyarakat jawa dan sumatra,karena dua pulau ini yang baru ada jalur kereta apinya. Untuk wilayah kalimantan,sulawesi,nusa tenggara dan papua,moda kereta api masih dalam batas wacana semenjak Indonesia merdeka.
Jika kita sedikit membaca kehidupan perkereta apian tentu akan menemukan banyak serpihan cerita dan bagaimana kontribusi kereta api dalam kemerdekaan RI.

Dalam era pergumulan kemerdekaan,bagaiamana perjuangan para buruh jawatan ini dalam melawan penguasa saat itu.
Perjuangan buruh jawatan kereta api ini tergabung dalam gerakan VSTP atau Vereniging van Spoor-en
Tramwegpersoneel yaitu serikat buruh
kereta api dan trem pertama, berdiri pada
tahun 1908 . Dengan tuntutan antara lain melawan ketidakadilan yang
diciptakan sistem kolonial,
Meski gerakan ini tidak sepenuhnya berhasil,namun setidaknya cerita-cerita diseputar perkereta apian sangatlah menarik,di era reformasi ini misalnya,bagaimana kebijakan pemerintah menata ulang sistem perkerta apian yang sangat amburadul,dalam lagu bang Iwan Fals yang berjudul kereta tiba pukul berapa, dapat kita tahu bahwa moda ini sangat suka datang terlambat,bahkan terlambat 2 jam pun biasa.
Sistem perkereta apian permasalahan sosial,seperti pembangunan pemukiman disisi jalur kereta api,pengais rejeki asongan di seputaran stasiun dan tidak tertibnya penumpang kereta api sendiri,membuat cerita kerita api layaknya sinetron yang tanyang ribuan episode (membosankan).
Namun lambat laun seiring reformasi berjalan di negri ini,dunia perkerta apian mulai bangkit dan berbenah,sudah tidak ada lagi cerita pedagang asongan diatas kereta,perkampungan kumuh disepanjang jalur kereta api,sistem pemesanan tiket online,dan tertibnya para penumpang kereta api.
Slogan jawa "jer basuki mowo beo" menjadi ruh perkerta apian saat ini,dimana kenyamanan harus dibayar,maka tiket mahal untuk semua kelas kereta api menjadi sebuah keharusan.
Sentuhan fisik perkereta apian boleh kita acungi jempol,namun pelayanan dan fasilitas kenyamanan penumpang seperti jauh api dari panggangan.
Pelayanan tiketing dalam hal ini petugas loket distasiun rata-rata seperti centeng kompeni,tiada senyum,tiada ramah dan sangar.
Untuk fasilitas,dalam kereta masih saja banyak toilet tanpa air atau tissu,distasiun sudah jamak bahwa musholla ada didalam stasiun,tidak di bagian depan atau luar stasiun,yang tentunya sangat tidak mendukung para pengantri tiket dalam beribadah.
Dan yang masih belum bisa dinikmati adalah ketepatan datang dan berangkatnya kereta api.
Jadi meski kereta ekonomi sudah tak ekonomis lagi,bukan berarti lagu bang Iwan Fals harus digubah ulang, "kereta tiba pukul berapa??"...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar