Translate

Jumat, 13 Januari 2017

Cabai oh cabai

Efek domino cabai membuat banyak masyarakat megap-megap, berikut tulisan dari mas Kokok Dirgantoro yang saya copy paste tanpa editing :D
-------------------------------------
Kokok Herdhianto Dirgantoro
Sharing (sedikit) tentang Rantai DistribusiTingginya harga Cabai membuat bising berbagaikanal komunikasi.
Dari yang mempersalahkan pemerintah sampai yang memberikan solusi memotong rantai distribusi.
Memotong rantai distribusi tersebut juga selalu menjadi program andalan tiap rezim. Namun sampai saat ini tak ada yang cespleng.Sudah jadi informasi umum bahwa harga di tingkat petani ke tangan konsumen bisa melewatibertingkat-tingkat level pedagang.
Dan berkali-kali pula muncul informasi mafia/kartel terkait perdagangan komoditas petani. Tingkatan-tingkatan margin antar pedagang inilah yang membuat harga petani bisa hanya 10-20% dari harga eceran di tangan konsumen.Berikut beberapa rantai yang saya ketahui:Rantai Pertama:Petani ke tengkulak kecil/sedang.Ini adalah rantai pertama. Petani membawa hasil panennya ke tengkulak terdekat dengan rumah atau ladangnya. Harga ditentukan tengkulak tersebut. Siapa price makernya? Ada dua level di atas tengkulak kecil/sedang, pembelibesar di wilayah dan pembeli di pasar induk.Antartengkulak kecil/sedang sudah biasa bekerjasama untuk mengumpulkan jumlah barang agar mencapai skala pengiriman yang efisien.
Misalnya ada permintaan cabai merah besar sebanyak 7 ton (satu truk), maka yang mendapat order akan mengontak tengkulak lainnya untuk mengumpulkan hingga 7 ton. Biasanya yang mendapat order membeli barang dari kawan tengkulak lainnya dengan memberi tambahan margin khusus. Misalnya harga cabai di tingkat petani Rp20rb/kg, maka yang mendapat order bisa membayar Rp21-22rb/kg atau harga lain yang disepakati.
Margin tengkulak level pertama ini tidak besar. Mereka harus mempersiapkan dana tunai, sewa truk/ekspedisi. Mereka juga harus punya gudang penyimpanan barang, pekerja harian untuk pengemasan berikut penyortiran. Risiko yang dihadapi adalah tambahan biaya dari pengemasan, kualitas barang yang njomplang dan terdeteksi dari penyortiran, serta susut selama pengiriman. Belum termasuk risiko logistik (macet di jalan, kecelakaan, dll).
Rantai keduaTransportasi
Ilustrasinya begini, harga Jeruk Nipis Banyuwangi di tingkat petani Rp1300/kg. Tengkulak di daerah menjual Rp3000/kg di pasar induk Jakarta. Berarti marginnya Rp1700/kg ya? Tidak. Rp800/kg bahkan Rp1000/kg adalah biaya pengiriman. Margin kotor tengkulak di desa kurang lebih Rp1700 - Rp800 =Rp900/kg. Belum dikurangi biaya sortir, pengemasan, karung, susut di jalan, dan penyiapan tunai keras di depan untuk membayar petani. Katakanlah, semua proses menghabiskanRp300-400/kg, maka margin yang diperoleh tengkulak di desa kurang lebih Rp500/kg.Transportasi adalah rantai kedua yang memakanbiaya dan risiko cukup besar.
Sejak dulu kala rezim berjanji rantai ini akan diturunkan biayanya dengan moda kereta api. Tapi rasanya masih jauh panggang dari api. Sama-sama ada apinya ya.Jalan rusak, macet, dan pasar induk kota utama dan kota satelit, menjadi tambatan rejeki transportasi dan juga tengkulak. Misalnya permintaan di kota-kota di Jawa Timur meningkat, maka tengkulak di desa memilih mengirim barang ke pasar yang lebih dekat. Dengan syarat marginnya bagus. Terefleksi dari harga tentunya. Usaha transportasi juga senang kalau mengirim lebih dekat karena risiko yang diterima lebih rendah dan bisa beberapa kali rit (pulang balik bawa barang).Rantai KetigaPasar Induk dan jaringan ritel moderenPasar induk menjadi titik awal price maker hingga level petani.
Di titik inilah harga melambung tinggi karena banyak yang harus berbagi margin. Demikian juga yang terjadi di ritel moderen.Ilustrasinya, harga Jeruk Nipis dari tengkulak di desa dibeli Rp3000/kg. Sampai di tangan konsumen yang beli sekilo atau kurang harganyaRp30rb/kg. Ada disparitas hingga 1000%.Pedagang di pasar induk memiliki langganan peritel sedang hingga kelompok sayur keliling, horeka (hotel, restoran, katering), industri, dan kadang ritel moderen kalau kurang barang juga ambil di pasar induk. Margin pasar induk tidak banyak. Tapi mereka kuasai volume perdagangan yang luar biasa besar. Dan sejauh yang saya tahu, perdagangan pasar induk dikendalikan secara informal, padahal uang yang berputar mencapai triliunan. Oiya, pasar induk kota besar di Jawa juga memenuhi permintaan barang dari luar Jawa karena daerahtak bisa memenuhi kebutuhan. Ini marginnya lebih tinggi, demikian juga dengan biaya pengirimannya. Saya pernah diajak sewa pesawat untuk kirim kentang, wortel dan sayuranlainnya. Tapi saya tolak karena hari itu saya lagi tidak punya uang. Gak usah nyinyir, ada hari di mana saya juga mengalami kurang duit. Walau sangat jarang terjadi#eaaaaRisiko-risiko yang dihadapi pasar induk adalah biaya bongkar barang, gudang penyimpanan sementara, lapak jualan, persaingan antarpedagang besar, barang susut/rusak selama penyimpanan di gudang, dll.Di ritel moderen, beberapa risiko bisa dimitigasi. Mereka punya gudang yang dingin, sistem tata dagang yang rapih, dan margin tinggi dapat diperoleh karena membeli di harga tengkulak di desa dan menjualnya secara eceran. Margin bertingkat yang diperoleh pasar induk hingga tukang sayur keliling dinikmati oleh ritel moderen. Jahat? Bukan. Ini namanya keunggulan dalam bisnis. Mereka investasi lahan yang besar, fasilitas pergudangan yang maju, dan fasilitas belanja yang paripurna. Bahkan kini ritel moderen dilengkapi juga dengan fasilitas bantu memasak.
Jadi kalau kita ingin beli ayam yang digoreng atau dipanggang, bisa beli di jaringan ritel moderen. Ini marginnya nambah lagi.Sampai hari ini saya tidak tahu berapa pembagian kue bisnis komoditas pertanian antara pasar induk dan ritel moderen. Yang pasti pasar-pasar tradisional yang kecil sudah mulai mati dan ditutup. Kota-kota besar, penduduknya lebih memilih belanja di ritel moderen untuk kebutuhan bulanan dan membeli secukupnya untuk memasak di tukang sayur keliling. Ini yang membuat jumlah pasar basah menurun sementara jaringan ritel moderen kian meraksasa.Rantai KeempatTukang sayur keliling dan Pedagang pasar basah
Tukang sayur keliling mengambil barang dari semacam kepala kelompoknya. Kepala kelompok atau bandar tsb, membeli dari pedagang di pasar induk. Mengambil marginkah dia? Ya pasti. Kecuali tukang sayur kelilingnya punya langganan horeka di wilayah tertentu, baru dia stop ambil dari bandar dan memilih beli di pasar induk untuk memenuhi volume permintaan sekaligus mempertebal marginnya.Berapa untung pedagang sayur keliling dan pedagang pasar basah/tradisional? 20%? 30%? Lebih. Saya pernah berbincang, keuntungannya bisa 60% bahkan lebih. Luar biasa. Pedagang di pasar basah biasa mengambil kredit ke bank dandibayar harian dari margin yang didapat. Kadang ambil kreditnya bisa ke 4-5 bank yang berbeda. Kena bunga tinggi sampai 12% pun tak masalah buat mereka. Bunga bank 12% per tahun alias 1% per bulan. Margin mereka per bulan bisa 60%. Masalahnya di jumlah cicilan dan moral hazard pedagang. Pedagang pasar yang kebetulan pasarnya ramai sekali (misalnya di pasar moderen BSD atau bintaro) selalu jadi incaran bank untuk ikut menangguk laba.***Jadi menurut saya, yang masih gelap adalah biaya transportasi dari pasar induk ke pasar lain,margin pedagang menengah, harga ke horeka, bandar sayur keliling dan tentunya margin bertingkat yang dinikmati ritel moderen. Yang membuat kian gelap adalah (selain ritel modern),semua dilakukan secara informal. Apakah pedagang besar dengan arus perputaran uang yang wah di pasar induk memiliki NPWP? Apakah pekerja informal (kuli angkut, tenaga bongkar, keamanan, penimbang) sudah memperoleh pendapatan yang layak?
Siapa sesungguhnya yang mendapat margin paling tinggi?Bolehkah saya ditambah informasi atau dikoreksi kalau ada yg salah. Terima kasih.